Advertisement here

Peran Profesi Akuntan dalam Persaingan di Era Digital


PENDAHULUAN
Era digital adalah suatu zaman atau kondisi kehidupan di mana orang-orang memanfaatkan teknologi untuk mempermudah dalam melakukan suatu kegiatan (Andy, 2021). Teknologi tersebut dapat membuat pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif seperti biaya yang lebih rendah, waktu yang lebih cepat, dan sebagainya. Dengan kemajuan dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, tentunya terdapat tantangan yang dialami oleh seorang akuntan. Proses akuntansi yang tadinya manual, sekarang dapat dilakukan secara otomatis terkomputerisasi yang dapat dilakukan oleh orang awam sekalipun. Artinya, persaingan akuntan di era digital ini dapat disaingi oleh siapa saja yang dapat menggunakan teknologi informasi. Namun, perlu diketahui bahwa seorang akuntan saat ini tidak lagi menyusun laporan keuangan, namun memberikan dukungan bagi proses pengambilan suatu keputusan manajemen pada suatu entitas (Putritama, 2019). Maka dari itu, akuntan memiliki peran penting bagi sebuah entitas. Artinya, akuntan memiliki peluang-peluang dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk memberikan dukungan proses suatu entitas.

PEMBAHASAN
1.     Profesi Akuntan

A.    Definisi Profesi

Menurut ahli Sonny Keraf (1998) dalam Amri (2016), profesi merupakan pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup atau sebagai sumber penghasilan utama yang mengandalkan keahlian serta keterampilan tinggi dan melibatkan suatu komitmen pribadi (moral) secara mendalam. Dengan demikian, seorang yang profesional merupakan seseorang yang menekuni pekerjaannya dengan purna-waktu serta hidup dari pekerjaan itu sebagai sumber penghasilannya dengan mengandalkan skill yang tinggi serta mempunyai komitmen yang mendalam atas pekerjaannya. Berdasarkan pernyataan tersebut, Sonny Keraf memberikan batasan–batasan terhadap profesi yang merupakan bagian dari suatu pekerjaan. Batasan-batasan tersebut antara lain:

a.  Memiliki keterampilan yang diwujudkan dalam bentuk ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

b.  Memiliki kode etik yang digunakan dalam sebuah profesi.

c.  Memiliki tanggung jawab dan integritas.

d.  Memiliki jiwa pengabdian kepada khalayak umum dengan dedikasi yang luhur.

e.  Otonomi organisasi yang profesional (manajemen organisasi).

f.   Menjadi bagian dari anggota organisasi profesi dengan menjaga eksistensi (Amri, 2016).

B.    Definisi Akuntansi

Akuntansi merupakan suatu perangkat sistem (teknik) dalam mengukur serta mengelola aktivitas transaksi keuangan perusahaan yang dapat menghasilkan informasi dari kegiatan perusahaan tersebut. Informasi yang diperoleh membantu berbagai pihak internal maupun eksternal dalam mengambil sebuah keputusan (Anonim, 2017). Akuntansi memiliki peranan penting dalam perusahaan, yaitu menghasilkan informasi yang menjelaskan mengenai kinerja keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu dan kondisi suatu keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Dalam Putritama (2019) menjelaskan bahwa penggunaan sistem informasi akuntansi yang terkomputerisasi memberikan peluang bagi entitas untuk melakukan fungsi akuntansi dengan lebih efisien dan efektif yaitu menghemat biaya serta waktu yang signifikan, sehingga dapat mewujudkan paperless office.

C.    Definisi Profesi Akuntan

Profesi akuntan adalah suatu profesi yang bertugas menghasilkan informasi keuangan berdasarkan kegiatan ekonomi melalui berbagai alat, metode, dan standar guna perencanaan, pengevaluasi, pengendalian, serta pengukuran kinerja bagi institusi yang menyelenggarakannya (Sasongko, 2002). Profesi akuntan adalah bidang pekerjaan yang menggunakan keahlian pada bidang akuntansi, termasuk dalam bidang pekerjaan akuntansi publik, akuntan internal yang bekerja kepada perusahaan industri, keuangan ataupun dagang, akuntan pemerintah, dan akuntan pendidik.

Menurut Anonim (2018) dalam Putritama (2019), profesi akuntan adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam pembukuan, pencatatan dan analisis akun, menyiapkan laporan keuangan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan, dan memberi gambaran dan saran tentang undang-undang perpajakan dan peluang untuk investasi. Pekerjaan yang dihasilkan dari profesi akuntan adalah informasi yang berkaitan dengan keuangan, baik yang menulis penilaian kewajaran penyusunan laporan, jasa konsultasi keuangan dan manajemen, jasa pemeriksaan keuangan, pajak, dan penugasan lainnya (Sasongko, 2002).

Akuntan adalah salah satu profesi yang paling terdampak oleh era digital sebab pada bidang pekerjaan  akuntan mengalami kemajuan yang besar berkat pertumbuhan teknologi informasi di era ini (Rom dan Rodhe, 2007) dalam (Putritama, 2019). Semakin banyak sistem informasi akuntansi yang berubah menjadi terkomputerisasi sehingga dapat dengan otomatis membuat laporan keuangan secara real time sehingga dapat menghemat biaya serta waktu sekaligus keakuratan laporan keuangan terjamin, mewujudkan paperless office, jejak audit terekam oleh sistem dengan otomatis, pengumpulan data dilakukan secara otomatis dan real time, dan keamanan data menggunakan sistem otorisasi (Lobo, Tilt, dan Forsaith, 2004; Ghasemi, Shafeiepour, Aslani, dan Barvayeh, 2011) dalam (Putritama, 2019)

Profesi akuntan di Indonesia jika dihitung sejak terbentuknya organisasi profesi akuntan di Indonesia, Ikatan Akuntan Indonesia  (IAI) tahun 1957 maka profesi akuntan dinilai sudah matang dalam segi usia, pengalaman, dan profesionalisme. Waktu akan membuat seseorang menjadi profesional dalam bidangnya, tentu saja memahami pekerjaan yang harus ditekuni saat ini dengan baik dan mengetahui bagaimana perkembangan profesi tersebut di masa mendatang. Di mana sekarang memasuki abad ekonomi baru yang harus memperhatikan teknologi yang disebut juga era digital.

Gambaran profesi akuntan pada masa dahulu atau sebelum memasuki era digital seorang akuntan menyiapkan informasi dalam bentuk laporan laporan guna pengambilan keputusan namun di masa sekarang atau era digital seorang akuntan menyiapkan informasi menggunakan teknologi guna perencanaan dan pengambilan keputusan sesuai dengan perubahan zaman ekonomi baru atau ekonomi digital.   

D.    Jenis-Jenis Profesi Akuntan

Menurut (Setiyani, 2005) dalam (Amarda, 2014) jenis-jenis profesi akuntan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu profesi akuntan publik dan profesi non akuntan publik. Profesi non akuntan publik ini terdiri dari akuntan perusahaan, akuntan pemerintah, dan akuntan pendidik. Akuntan perusahaan tugas utamanya adalah menyediakan informasi keuangan. Contoh Akuntan Perusahaan ada dua yaitu pertama, akuntansi manajemen yang bermanfaat untuk menghasilkan informasi secara khusus bagi pengguna internal (manajer dan karyawan) yang berfungsi sebagai pengidentifikasi, pegumpul, pengukur, pengklasifikasi serta pelaporan informasi yang bermanfaat sebagai pembuatan perencanaan, pengendalian, dan keputusan. Kedua, akuntansi keuangan berguna untuk menghasilkan informasi kepada pihak internal dan eksternal (manajer, investor, karyawan, kreditur, dan pemerintah) yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan yang terhubung dengan entitas secara keseluruhan.

Akuntan pemerintah merupakan akuntan yang bekerja pada instansi pemerintah. Sedangkan akuntan pendidik merupakan akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, yaitu mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi dan melakukan penelitian pada bidang akuntansi dan berpedoman pada Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 

2.      Era Big Data

A.    Definisi Big Data

            Menurut Kitchin (2013) dalam Putritama (2019), big data merupakan data yang volumenya besar, berkecepatan tinggi (mendekati real-time), memiliki format yang bermacam-macam (terstruktur dan tidak terstruktur), serta berupa keseluruhan populasi dalam sistem. Menurut Crawford dan Schultz (2014) dalam (Putritama, 2019) big data yaitu pengumpulan konten dari beragam interaksi dan infrastruktur pengguna sensor daring, mulai dari transaksi daring, catatan kesehatan, permintaan pencarian, jaringan komunikasi, jaringan listrik, dan telepon seluler.

            Big data adalah istilah yang umum untuk segala berbagai data-data yang berjumlah  besar dan kompleks sehingga sulit untuk diproses atau ditangani jika hanya menggunakan manajemen basis data biasa ataupun aplikasi pemroses data tradisional (Efendi, 2016)Era big data dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap profesi akuntan, antara lain: 1) profesi akuntan harus meningkatkan kompetensinya di bidang teknologi digital untuk mengoptimalkan penggunaan aset big data yang dipunyai perusahaan; 2) profesi akuntan dituntut mempunyai skills dalam teknologi digital terutama dalam bidang manajemen keuangan; 3) permintaan jasa profesi akuntan di bidang teknis akan berkurang karena banyak tersedia software dan program-program akuntansi yang murah serta mudah digunakan oleh orang awam; 4) pemeriksaan bukti audit dilakukan otomatis terhadap keseluruhan transaksi dan bukti (Putritama, 2019).

B.    Karakteristik Big Data

            Big data memiliki ciri-ciri yaitu berukuran sangat besar, memiliki variasi, memiliki laju pertumbuhan yang cepat, dan sebagian besar tidak terstruktur. Ciri-ciri ini biasa dikenal dengan 3 V's Big Data. McKinsey Global Institute (MGI) menyatakan, big data merupakan kumpulan data yang sukar untuk dikoleksi, disimpan, dikelola, maupun dianalisis dengan menggunakan sistem database standar atau biasa karena volumenya yang terus bertambah. Karakteristik 3V yang dimaksud merupakan volume, velocity, dan variety. Karakteristik volume adalah jumlah big data yang terus meneurs bertambah dan terus diproduksi tiap harinya yang tersimpan dalam format digital di internet. Karakteristik velocity merupakan kecepatan pertumbuhan big data yang tidak dapat dikontrol sehingga sulit untuk mengolah data tersebut menggunakan teknologi yang konvensional. Karakteristiki variety merupakan berbagai macam data yang tersedia di dalam big data. Beberapa jenis data yang ada dalam big data yaitu data audio, video, teks, gambar dan sebagainya.

            Ada sedikit perbedaan cara kerja serta pengolahan big data dari data yang sudah tersimpan di database. Proses permulaan yang dilakukan dalam big data yaitu mengintegrasi data. Jika data dari database diproses menggunakan sistem ETL (Extract, Transform, and Load), maka berbeda halnya dengan big data yang mempunyai proses pengolahan yang lebih komples atau rumit karena big data terdiri dari berbagai macam atau jenis data dengan berbagai format, maka diperlukan adanya proses penggantian format agar serupa dan dapat diolah lebih lanjut. Proses kedua yang dilakukan dengan big data yaitu managing data. Proses ini dilakukan agar big data dapat diatur, maka diperlukan adanya proses penyimpanan yang tepat. Cloud merupakan tempat penyimpanan big data dengan biaya yang terjangkau. Proses ketiga dalam pengolahan big data yaitu menganalisis data. Tidak seperti data biasa yang dapat diolah menggunakan metode statistik tertentu, big data harus diolah dengan membuat pemodelan menggunakan machine learning dan artificial intelligence (AI). Setelah data berhasil diolah dan dianalisis, selanjutnya kita akan mendapatkan input dan insight baru yang bermanfaat bagi proses pengambilan suatu keputusan (Kurniawati, 2020).

C.    Fungsi Big Data

            Big data memiliki beberapa fungsi, di antaranya dapat dipergunakan untuk memprediksi rata-rata harga saham. Misalnya, seperti yang telah dilakukan oleh Bollen, Mao, dan Zeng tahun 2011 dengan mengukur public mood secara global berdasar data yang berasal dari twitter, kemudian mereka sukses memprediksi fluktuasi harian dari Dow Jones Industrial Average (DJIA). Selain media sosial, data-data yang tersedia di artikel seperti media elektronik juga dapat digunakan memprediksi pergerakan harga saham. Dari contoh di atas, melalui sumber data yang sama, nantinya dapat dipergunakan untuk meprediksi kebangkrutan suatu entitas atau menilai kondisi keuangan suatu perusahaan.

            Dalam mengelola inventory  suatu entitas, big data juga bisa membantu dalam hal pengelolaannya. Misalnya, melalui data demografi hingga cuaca suatu daerah. Seperti yang telah dilakukan oleh Walmart. Departement store Walmart melakukan analisis data-data transaksi penjualan yang berukuran besar hingga terabytes untuk menentukan ancaman hurricanes (angin topan) pada suatu daerah, di mana jika ancaman ini akan datang, pelanggannya tidak hanya membeli lampu senter (flashlight) tapi juga penjualan produk pangan seperti makanan instan yang meningkat lima kali lipat. Hal ini dapat membantu Walmart melakukan managing inventory dengan lebih baik. Proses analisis data seperti ini juga dapat diterapkan dalam kegiatan audit, misalnya dengan memfokuskan proses audit pada area bisnis yang dianggap lebih berisiko. (Anonim, 2018)

            Ada tiga tahap untuk memperoleh nilai manfaat dari big data. Daniel (2014) dalam Putritama (2019) menjelaskan tahapan tersebut antara lain: 1) pengumpulan big data, melibatkan proses identifikasi, pemilahan data berdasarkan relevansi data serta penyimpanan data dalam gudang data; 2) analisis big data, bermanfaat untuk memahami suatu informasi yang terkandung dalam big data; serta 3) visualisasi dan aplikasi, pada tahapan akhir ini data telah ditafsirkan dan diintegrasikan dalam proses bisnis yang ada sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam pembuatan keputusan.

D.    Peran Akuntan di Era Big Data

Akuntan merupakan orang yang melakukan aktivitas akuntansi (Atila, 2021). Akuntansi memiliki peran penting pada suatu entitas yaitu menyediakan informasi dan jawaban terkait keuangan, sebagai alat pengontrol dan pengendali keuangan, membantu stakeholders dalam mengambil keputusan, serta berhubungan dengan pihak ketiga (Sleekr, 2017). Dengan demikian, jika tidak ada akuntan, maka sebuah entitas akan sulit menganalisis keberlangsungan hidupnya seperti tidak mengetahui laba atau rugi, jumlah persediaan, utang dan piutang, dan sebagainya.

Rom dan Rodhe (2007) dalam Putritama (2019) mengatakan akuntan sangat terpengaruh oleh era big data dan mengalami kemajuan yang luar biasa karena pertumbuhan teknologi informasi. Di era big data, seorang akuntan dimudahkan dalam menyusun laporan keuangan. Dalam membuat pembukuan sudah tidak lagi dilakukan secara manual tetapi dapat menggunakan software akuntansi di mana akuntan hanya melakukan satu kali input transaksi, kemudian secara otomatis data terinput secara terintegrasi dan realtime hingga menjadi laporan keuangan. Lobo, Tilt, dan Forasith (2004) dan Ghasemi, Shafeiepour,Aslani, dan Barvayeh (2011) dalam Putritama (2019) mengatakan semakin banyak informasi akuntansi yang terkomputerisasi maka dapat memangkas biaya serta waktu sekaligus meningkatkan keakuratan laporan keuangan, jejak audit otomatis terekam oleh sistem, mewujudkan paperless office, pengumpulan data otomatis dan realtime, serta terjaminnya keamanan data dengan sistem otorisasi. Dalam era big data, akuntan mengalami pergeseran peran. Akuntan tidak lagi menyusun laporan keuangan namun memberikan dukungan bagi proses pengambilan suatu keputusan manajemen pada suatu entitas (Putritama, 2019). Pratolo dalam Putritama (2019) menjelaskan, dukungan yang diberikan oleh akuntan dalam pengambilan keputusan antara lain menentukan waktu yang tepat untuk pengambilan keputusan, mengidentifikasi pengukuran non-finansial, mengembangkan cara mengkuantifikasikan data tidak terstruktur, dan memperkirakan dampak keputusan pada hasil keuangan serta kinerja operasional perusahaan dengan menggunakan analisis big data, atau akuntan berperan sebagai high level decision support specialist.

3.   Persaingan Profesi Akuntan di Era Digital

        Adanya perkembangan teknologi informasi mengubah perilaku masyarakat. Saat ini masyarakat memperoleh informasi dapat melalui televisi, radio, telepon. Selain itu salah satu hasil perkembangan teknologi dan komunikasi atau pun informasi yang luar biasa saat ini adalah internet dimana kita dapat memperoleh informasi apa saja lewat internet hal ini sering disebut dengan era digital.

        Pada era digital membawa dampak besar karena adanya kemajuan teknologi perkembangan ekonomi digital menjadi lebih efektif dan efisien. Akuntan adalah salah satu profesi yang mendapat pengaruh terhadap profesinya sehingga profesi akuntan harus menyesuaikan dengan cara meningkatkan keahlian (mastering skills), wawasan serta terbuka terhadap perubahan ini. Selain itu juga harus mempertahankan nilai dan etika serta moral yang baik untuk dapat beradaptasi dalam menghadapi era ini. (Sugeng, Afandi, Widiyati, Fitriyah, & Hasanah, 2021) mengatakan dampak dari era ini yaitu banyak yang beropini bahwa profesi akuntan akan tergantikan dengan adanya big data dan cloud computing. Sehingga sebagian tugas dari akuntan banyak yang tergantikan maka tidak perlu membutuhkan terlalu banyak akuntan. Namun juga ada yang beranggapan bahwa adanya big data dan cloud computing justru memberikan dampak baik yaitu memudahkan pekerjan para akuntan. Karena dengan adanya big data dan cloud computing membuat akuntan untuk berinovasi dan meningkatkan keefisienan dan kefektifitasan perusahaan dimana mereka bekerja.

              Dengan adanya era digital ini muncul sebuah persaingan, yaitu persaingan antara pekerja akuntan untuk berlomba-lomba membuat inovasi baru guna mempertahankan posisi mereka agar tetap dibutuhkan. Karena kecerdasan mesin semakin pintar dan murah, mengakibatkan lebih memilih beralih pada mesin dibandingkan tenaga manusia karena lebih sedikit mengeluarkan biaya (Sugeng, Afandi, Widiyati, Fitriyah, & Hasanah, 2021). Maka bagi yang berprofesi sebagai akuntan dengan adanya perubahan tersebut mejadikan tantangan yang harus di perhatikan. Tantangan yang akan dihadapi di era digital diharapkan para akuntan siap bersaing dan menghadapi perubahan di era saat ini dengan penuh percaya diri sehingga dapat menghasilkan karya yang inovatif dan dapat bersaingan dengan yang lain.

4.   Tantangan Profesi Akuntan dalam Persaingan di Era Digital

        Hadirnya Era Digital 4.0 memunculkan berbagai tantangan dan tuntutan yang tidak dapat dihindarkan. Dalam menghadapi tantangan dan peluang Era Digital 4.0  generasi milineal harus berinovasi dan kreasi. Dalam Era Digital ini perkembangan teknologi akan mengubah sistem kerja bisnis, dimana berkaitan dengan; (1) Bagaimana cara pendanaan atas bisnis, seperti perubahan asset perusahaan yang akan banyak berupa “teknologi”, (2) Sumber daya yang ada dibutuhkan dalam bisnis tidak banyak lagi membutuhkan SDM karena pekerjaan akan banyak dikerjakan teknologi, bisa termasuk staf akuntansi, (3) Pembuatan serta pengembangan perusahaan baru akan lebih pada berbasis virtual office / shop, dan (4) Cara menjual produk atau jasa sudah melalui online marketplace (Sihombing, 2019). Kirstin Gillon mengatakan bahwa, risiko dan peluang teknologi perlu diidentifikasi dan dipahami dengan baik oleh kalangan profesi di tengah tren IT global, agar dunia bisnis dapat bertumbuh dengan aman dan optimal (Anonim, 2016). Dengan adanya perkembangan aplikasi baru menjadikan peran akuntan sudah tidak dibutuhkan lagi, ACCA (2013) dalam (Putritama, 2019) mengatakan bahwa pada era big data, profesi akuntan dapat memanfaatkan berbagai teknologi informasi sehingga menciptakan tantangan, yaitu :

a)      Penggunaan teknologi seluler oleh akuntan

Akuntan menggunakan teknologi seluler untuk menyimpan berbagai macam data penting ataupun rahasia, tetapi dengan menggunakan teknologi tersebut menimbulkan potensi pencurian informasi.

b)     Penggunaan cloud computing oleh akuntan

Cloud computing berjalan atau dapat digunakan, apabila terdapat koneksi internet. Jika, koneksi terputus maka tidak dapat digunakan.  Dengan menggunakan sistem ini, kerahasiaan akan terjaga bila partner cloud computing sudah mempunyai sertifikat atau sudah berstandar ISO.

c)      Crowdsourcing oleh akuntan

Meningkatkan risiko keamanan data rahasia perusahaan dan  memposisikan keuangan sebagai hal yang terpenting secara strategis.

d)        Sistem pembayaran elektronik

Banyak terjadi tindakan kecurangan karena tidak adanya transaksi secara langsung sehingga belum adanya regulasi mengenai sistem pembayaran elektronik dari pemerintah maupun badan terkait. Transaksi yang dilakukan membuat adanya pergeseran konsep uang tradisional ke uang virtual.

e)      Cyber security

Chief Financial Officer (CFO) dan fungsi keuangan harus bertindak sebagai penjaga data, dan hilangnya privasi penyebab berbagai perangkat elektronik mengumpulkan serta mengirimkan data tanpa disadari penggunanya.

f)       Robo-advisor

Kecerdasan robo-advisortidak mungkin melebihi desain rancangan programer, dan dikhawatirkan robo-advisor dapat menggeser peran akuntan.

g)      Kecerdasan buatan (artificial intelligence)

Kesulitan dalam menentukan kapan penggunaan penilaian profesional atau mengandalkan perangkat lunak kecerdasan buatan (artificial intelligence), de-skilling yang progresif dari profesi akuntansi, dan perangkat lunak kecerdasan buatan yang mampu belajar mandiri dapat lebih efektif menjawab persoalan bisnis dibandingkan dengan akuntan.

5.   Peluang Profesi Akuntan di Era Digital

A.  Definisi Peluang

Kata peluang berasal dari bahasa inggris yaitu opportunity yang memiliki definisi kesempatan yang muncul dari suatu kejadian atau momentum. Peluang usaha merupakan suatu kesempatan sehingga dapat dimanfaatkan oleh individu atau badan usaha untuk mendapatkan keuntungan.

B.  Peluang Profesi Akuntan

Penggunaan sistem informasi akuntansi yang terkomputerisasi telah memberikan peluang bagi suatu perusahaan untuk melakukan fungsi akuntansi dengan lebih efisien dan efektif yang dapat menghemat waktu dan biaya secara signifikan, bahkan dapat juga mewujudkan paperless office (Putritama, 2019)Di masa lalu maupun di masa sekarang, akuntan tetap memegang peran penting dalam sistem informasi pengukuran serta pelaporan yang terdiri dari akuntansi bisnis/keuangan, akuntansi sosial, akuntansi pemerintah, audit, dan perpajakan karena profesi akuntan muncul sebagai tindaklanjut suatu keinginan individu untuk menggunakan sumber daya yang langka secara bijak, mengumpulkan kekayaan, dan menghasilkan barang dan/atau jasa yang berkualitas tinggi dalam persaingan ekonomi yang kompetitif (Putritama, 2019).

ACCA (2013) dalam Putritama (2019) menjelaskan profesi akuntan dapat memanfaatkan teknologi informasi sehingga menciptakan berbagai peluang sebagai berikut:

1)   Peluang yang muncul karena penggunaan teknologi seluler oleh akuntan yaitu komunikasi yang lebih cepat dan lebih mudah dengan rekan sejawat dan klien di seluruh dunia, peningkatan produktivitas dan efisiensi suatu entitas, dan peningkatan kualitas pelayanan kepada klien.

2)  Peluang yang muncul akibat adanya penggunaan cloud computing oleh seorang akuntan yaitu kemudahan akses dan berbagi data,  peningkatan skalabilitas, dan mengurangi biaya pemeliharaan sistem.

3)    Peluang yang muncul dari penggunaan crowdsourcing oleh akuntan yaitu menghilangkan hambatan komunikasi, memudahkan pengambilan keputusan oleh stakeholder perusahaan, mempercepat proses rekapitulasi transaksi keuangan akhir bulan, meningkatkan produktivitas perusahaan.

4)   Peluang yang muncul yaitu dengan adanya sistem pembayaran elektronik yaitu dengan meningkatkan transparansi transaksi dapat mengubah peran akuntan dalam bidang keuangan, dapat mengatasi kegagalan pembiayaan bisnis, proses rekonsiliasi yang sederhana dapat menghemat waktu dan uang, dan otomatisasi transaksi.

5)   Peluang yang muncul dengan adanya cyber security yaitu dapat mengurangi risiko dan biaya akibat kejahatan cybermeningkatnya peran akuntan dalam mengidentifikasi risiko,  dan penggunaan cyber security dalam audit internal bisa memberikan jaminan terhadap keamanan data.

6)  Peluang yang muncul dengan adanya robo-advisor yaitu memudahkan pekerjaan teknis akuntan.

7)  Peluang yang muncul dengan adanya kecerdasan buatan (artificial intelligence) yaitu meningkatkan kepatuhan serta pengambilan keputusan, mengotomatisasi pengerjaan tugas rutin yang biasa dilakukan manusia dengan entitas berbasis perangkat lunak,  meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan.


 KESIMPULAN

        Profesi akuntan merupakan suatu profesi yang bertugas menghasilkan informasi keuangan berdasarkan kegiatan ekonomi melalui berbagai alat, metode, dan standar guna perencanaan, pengevaluasi, pengendalian, dan pengukuran kinerja bagi institusi yang menyelenggarakannya (Sasongko, 2002). Ada berbagai jenis profesi akuntan yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu profesi akuntan publik dan profesi non akuntan publik. Profesi non akuntan publik ini terdiri dari akuntan perusahaan, akuntan pemerintah, dan akuntan pendidik. Akuntan perusahaan tugas utamanya adalah menyediakan informasi keuangan.

            Di era big data, seorang akuntan dimudahkan dalam menyusun laporan keuangan. Selain itu salah satu hasil perkembangan teknologi dan komunikasi atau pun informasi yang luar biasa saat ini adalah internet di mana kita bisa memperoleh informasi apa saja lewat internet hal ini sering disebut dengan era digital. Pada era digital membawa dampak besar karena adanya kemajuan teknologi perkembangan ekonomi digital menjadi lebih efektif dan efisien. Akuntan adalah salah satu profesi yang mendapat pengaruh terhadap profesinya sehingga profesi akuntan harus menyesuaikan dengan cara meningkatkan keahlian (mastering skills), wawasan serta terbuka terhadap perubahan ini. Dengan adanya era digital ini muncul sebuah persaingan, yaitu persaingan antara pekerja akuntan untuk berlomba-lomba membuat inovasi baru guna mempertahankan posisi mereka agar tetap dibutuhkan. Karena kecerdasan mesin semakin pintar dan murah, mengakibatkan lebih memilih beralih pada mesin dibandingkan tenaga manusia karena lebih sedikit mengeluarkan biaya (Sugeng, Afandi, Widiyati, Fitriyah, & Hasanah, 2021). Maka bagi yang berprofesi sebagai akuntan dengan adanya perubahan tersebut mejadikan tantangan yang harus di perhatikan.

            Pada era big data, profesi akuntan dapat memanfaatkan berbagai teknologi informasi sehingga menciptakan tantangan, yaitu: 1) Penggunaan teknologi seluler oleh akuntan, 2) Penggunaan cloud computing oleh akuntan, 3) Crowdsourcing oleh akuntan, 4) Sistem pembayaran elektronik, 5) Cyber security, 6) Robo-advisor, 7) Kecerdasan buatan. Sedangkan peluangnya sendiri yaitu: 1) Komunikasi lebih cepat, 2) Kemudahan akses dan berbagi data, 3) Menghilangkan hambatan komunikasi, memudahkan pengambilan keputusan, mempercepat proses rekapitulasi keuangan, meningkatkan produktivitas perusahaan, 4) Meningkatkan transparansi transaksi, 5) Mengurangi risiko serta biaya akibat kejahatan cyber, 6) Memudahkan pekerjaan teknis akuntan, 7) Meningkatkan kepatuhan serta pengambilan keputusan, mengotomatisasi pengerjaan tugas rutin, meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan.

 

SARAN

Era digital adalah era pemanfaatan teknologi informasi untuk memudahkan manusia dalam melakukan suatu kegiatan. Kegiatan bisnis perusahaan maupun kegiatan-kegiatan pada suatu entitas publik dapat memanfaatkan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi ini. Meskipun aktivitas akuntansi dapat digantikan oleh orang awam, namun peran akuntan dalam proses lebih lanjut seperti analisis keuangan dan proses pengambilan keputusan suatu entitas masih diperlukan. Maka dari itu, sebaiknya akuntan memanfaatkan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi yang ada agar dapat bekerja lebih efektif dan efisien serta mencari peluang-peluang yang dihasilkan dari kemajuan dan perkembangan teknologi informasi tersebut.


REFERENSI

Amarda, V. K. (2014). Daftar Dokumen Jenis (Skripsi). Retrieved Mei 16, 2001, from Digital Library UNS: https://digilib.uns.ac.id

Amri, N. F. (2016, Januari 19). Profesi. Retrieved from e-akuntansi.com: https://www.e-akuntansi.com/profesi/#:~:text=Profesi%20menurut%20Sony%20Keraf%20(1998,pribadi%20%E2%80%9Cmoral%E2%80%9D%20yang%20mendalam.&text=c.%20Memiliki%20tanggung%20jawab%20profesi%20dan%20integritas%20pribadi.

Andy. (2021). Pengertian Era Digital dan Dampaknya untuk Kehidupan. Retrieved Mei 16, 2021, from QWords: https://qwords.com/blog/era-digital-adalah/

Anonim. (2016, Agustus 18). Tantangan Besar Dunia Akuntansi Di Era Digital. Retrieved from iaiglobal.or.id: http://www.iaiglobal.or.id/v03/berita-kegiatan/detailberita-936=tantangan-besar-dunia-akuntansi-di-era-digital---

Anonim. (2017). Pengertian Akuntansi dan Pentingnya dalam Bisnis. Retrieved from jurnal.id: https://www.jurnal.id/blog/pengertian-akuntansi-dan-pentingnya-dalam-bisnis/

Anonim. (2018). Retrieved from Pemanfaatan Big Data Analytics dalam Akuntansi: https://maksi.binus.ac.id/2018/10/05/pemanfaatan-big-data-analytics-dalam-akuntansi/

Atila, A. (2021, Februari 07). Akuntan: Pekerjaan yang Paling Keren di Dunia. Retrieved from Jojonomic: https://www.jojonomic.com/blog/akuntan/

Efendi, I. (2016). Retrieved from Pengertian Big Data: https://www.it-jurnal.com/pengertian-big-data/

Kurniawati, G. N. (2020). Retrieved from Belajar Big Data: Karakteristik, Fungsi, Kelebihan dan Kekurangan Big Data: https://www.dqlab.id/belajar-big-data-bersama-dqlab-yuk

Putritama, A. (2019). Peluang Dan Tantangan Profesi Akuntan Di Era Big Data. Jurnal Akuntansi, 74-84.

Sasongko, N. (2002). Profesi Akuntansi Masa Kini Dan Masa Depan. Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol.1 No. 2, 11-20.

Sihombing, T. P. (2019, September). Tantangan Akuntan Di Era Revolusi Industri 4.0 Pada Masa Bonus Demografi Indonesia. Retrieved from tunasbangsa.ac.id: https://tunasbangsa.ac.id/seminar/index.php/senaris/article/view/18/18

Sleekr. (2017, Februari 24). Ternyata Inilah 4 Peran Akuntansi Yang Utama dalam Bisnis. Retrieved from Sleekr: https://sleekr.co/blog/peran-akuntansi-dalam-bisnis/#:~:text=Peran%20akuntansi%20dalam%20bisnis%20yang,karyawan%20untuk%20mengukur%20kondisi%20perusahaan.

Suarni, N. P. (2020, Mei 21). Peran dan Tantangan Akuntansi dalam Persaingan di Era Digital. Retrieved from kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/suarniasih/5ec642c9097f362465209465/peran-dan-tantangan-akuntansi-dalam-persaingan-di-era-digital

Sugeng, A., Afandi, A., Widiyati, D., Fitriyah, & Hasanah, N. (2021). Profesi Akuntansi New Generation Dan Tantangan Masa Kini Di Era Revolusi Industri 4.0 DI SMK YADIKA 5 PONDOK AREN. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol.2 No.2, 302-307.

 

 

 

 

 

 

 

 


No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Akuntan,Akuntansi,Big Data,Era Digital,Hukum Bisnis